Bolehkah kupinjam punggungmu???
Di selasar masjid itu seorang teman duduk di sampingku.
Begitu serius mendengarkan dan memperhatikan apa yang kusampaikan meskipun pada awalnya hal itu tidak ingin ku ungkapkan
Setelah aku selesai bercerita dengan kata-kata yang tak beraturan, dengan begitu bijak dia mengatakan “Anti cuma ingin didengarkan atau ingin mendapat komentar?” Aku bingung, kukatakan kuingin dua-duanya
Dia pun menuturkan pendapatnya dengan bijak dan santun…
Sumpah, saat percakapan itu berkali-kali mata ku berkaca-kaca, kamu pasti melihatnya kan?
Kalau tidak malu karena diantara kita ada ikhwah-ikhwah lain yang sibuk dg setorannya dan ada beberapa adik-adik mhs yang sedang bljr bsama, saat itu ingin kukatakan ”Bolehkah aku pinjam punggungmu walau hanya untuk sebentar saja? Aku butuh tempat untuk bersandar dan menumpahkan perasaanku..”
Walau akhirnya tak kukatakan juga kata-kata itu, aku sangat bersyukur bahwa hari ini masih bisa dipertemukan dg mu..
Rina, pertemuan dengan mu adalah kado penghibur terindah pada hari ini yang Allah kasih untukku… kamu tau itu?
Terimakasih untuk kehadiranmu, dimana yang lain entah ada di mana…
1 Februari kelabu